Kamis, 17 Desember 2009
Wife and Hooker
Waktu ada agen asuransi syariah datang kerumahnya, dia bertanya tentang apa beda asuransi (atau ekonomi secara umum) syariah dengan yang ribawi(konvensional)?
Sang agen tidak langsung menjawab, tapi:
"Begini, pak. bapak kan udah berkeluarga?"
"Betul"
"Kalo begitu, saya tanya, apa bedanya kita berhubungan badan dengan istri ama dengan psk (ato WTS, tau dech istilahnya)?, dua-duanya prosesnya sama, rasanya sama, ya khan?"
"hehehe..."
"Tapi, kenapa kalo ama istri dihitung pahala, kalo ama psk dihitung Zina yang berdosa besar?"
"Iya, ya.."
"Bedanya di Akad, pak. adanya Akad nikah waktu bapak nikah ama istri bapak, demikian juga dengan asuransi dan ekonomi syariah secara umum, semuanya menggunakan akad yang jelas, agar kita terhindar dari dosa Riba, Judi dan lain-lainnya"
No Risk Investment
1. Misleading, dia berusaha menyesatkan.
2. Fraud, percobaan penipuan.
Kita mempunyai 2 pilihan untuk menghadapinya:
1. Ditinggalin pergi aja...
2. Kita ketawain, huahahahahahaha....
Rabu, 09 Desember 2009
Memilih Reksadana
Seorang Intelligent Investor dalam memilih reksadana, juga akan berdasarkan hal-hal di atas, tetapi dengan urutan yang terbalik.
Kebahagiaan
Kamis, 03 Desember 2009
Masalah Sepele?
"Karena paku kecil yang lepas, maka lepaslah tapal kuda,
Karena lepas tapal kuda, kuda tidak bisa berlari,
Karena kuda tidak bisa berlari, pesan tak sampai,
Karena pesan tak sampai, kalah pasukan dalam pertempuran."
Selasa, 28 Juli 2009
Kena writer block, kalii
tak perhatikan, bukan tak gendong yaa, di blog orang-orang juga pada rehat.
kalo semua pada kena, apa berarti ini musimnya? atau jangan-jangan malah semacam wabah?
jangankan blog yang mengangkat tema khusus, blog pribadi yang acakadul kayak ini aja juga kehabisan ide.
jadinya karena menthok, terpaksa ide "kehabisan ide" ini jadi bahan postingan juga...
maaf, dech..
Rabu, 17 Juni 2009
Musuhmu adalah dirimu sendiri
Dalam sehari-hari kita sering berperang dengan diri sendiri, seperti saat ditawari kartu kredit misalnya; ada dorongan kuat dari nafsu gengsi dan serakah untuk mengambil atau menerima tawaran itu, tapi rupanya Yang Kuasa menganugerahi kita Hati dan Pikiran sehat agar kita mempertimbangkan untung ruginya mempunyai kartu kredit.
Marilah kita jaga diri kita agar tidak terjebak hutang dan dikalahkan oleh nafsu gengsi dan serakah dalam diri kita sendiri.
Rabu, 10 Juni 2009
Doaku Pasti Dikabulkan Alloh
Selasa, 09 Juni 2009
Berhasil atau Gagal?
Kamis, 04 Juni 2009
Rokok untuk Pensiun

Harga rokok terakhir yang saya beli seharga 7.000 rupiah, berarti saya menhabiskan 14.000 rupiah perminggu, atau 56.000 rupiah perbulan.
Rabu, 03 Juni 2009
Treadmill Test
Selasa, 02 Juni 2009
Kemeja
"Bu, sedang menjahit apa?"
belum sempet sang ibu menjawab, anak kedua menyela;
"Bu, makannya dimana? laper, nih"
Si ibu berpikir mana yang mau dijawab duluan, biar enggak mengecewakan salah satunya. akhirnya sang ibu menjawab dengan satu jawaban untuk keduanya;
"Kemeja!.."
Jumat, 22 Mei 2009
Siapakah yang memaksa-Nya bersumpah?
Rabu, 20 Mei 2009
Reksadana Indeks – Sejarah dan Prospek
Posted on September 22, 2007 by John Item
dari johnitem.wordpress.com
Tadinya versi ini yang akan dikirim ke Kompas (2006). Tapi setelah berbagai pertimbangan, versi yang satu lagi yang dikirim. (Lihat posting mengenai Rekadana Indeks, bulan lalu).
Wall Street terkejut karena rekomendasi ini sangat bertentangan dengan pandangan dan kebiasaan yang berlaku pada saat itu, dimana pengelolaan reksadana biasanya dilakukan secara aktif dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi investor.
Yang membuat artikel tersebut tidak dipandang sebelah mata oleh Wall Street adalah karena sang penulis adalah seorang sesepuh Ekonom Amerika Serikat (AS), pemenang Nobel Ekonomi dan pengarang buku Makro Ekonomi terlaris didunia, Profesor Paul Samuelson dari MIT (Massachussets Institute of Technology).
Ide dasar ini kemudian dikembangkan oleh Profesor Eugene Fama, murid Samuelson, dari University of Chicago yang kemudian mencetuskan apa yang disebut Efficient Market Hypothesis (EMH). Pada intinya, EMH menyatakan bahwa harga saham di pasar sudah mencerminkan segala informasi yang relevan mengenai saham tersebut. Sedangkan informasi baru mengenai saham tersebut akan diproses oleh para pelaku pasar secara efisien sedemikian rupa, sehingga harga saham akan menyesuaikan diri secara cepat dan langsung (instant) untuk mencerminkan informasi baru tersebut. Ditambah dengan asumsi bahwa informasi baru tersebut datang secara acak, maka harga saham tersebutpun akan bergerak secara acak juga. Akibatnya, tidak ada strategi investasi apapun yang dapat diterapkan oleh investor untuk mendapatkan tingkat keuntungan abnormal (excess return) secara konsisten atau secara terus menerus.
Sulitnya menghasilkan return abnormal secara terus menerus ini juga dicetuskan oleh Charles D. Ellis dalam artikel The Loser’s Game di Financial Analyst Journal tahun 1975. Di artikel tersebut Ellis mengilustrasikan bahwa untuk memperoleh 20% excess net return diatas tolok ukur (indeks), investor aktif secara rata-rata harus menghasilkan 40% excess gross return (sebelum dipotong biaya). Jelas ini bukan merupakan tugas yang mudah. Selanjutnya Ellis menambahkan bahwa dengan semakin banyaknya pemain institusi di pasar modal (dengan segala kecanggihannya), kompetisi untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya jadi semakin meruncing. Oleh karena itu, semakin sulit bagi masing-masing investor untuk memperoleh excess return secara konsisten. Akibatnya, investasi aktif di pasar modal menjadi losing game. Di losing game ini, pemenangnya adalah mereka yang membuat kesalahan paling sedikit. Di investasi pasar modal, pemenangnya adalah mereka yang mengeluarkan biaya paling sedikit.
Hasil observasi kinerja manajer investasi Amerika di tahun 1960 sampai awal 1970an ternyata mendukung EMH. Secara rata-rata,70% manajer investasi kinerjanya dibawah kinerja indeks (S&P 500). Sedangkan 30% manajer investasi yang kinerjanya lebih baik di tahun tertentu, belum tentu bisa mengulang prestasi yang sama di tahun selanjutnya. Akibatnya, bagi investor, memilih manajer investasi mana yang akan mengalahkan indeks di tahun tertentu menjadi sama sulitnya dengan memilih saham mana yang akan berkinerja baik di tahun yang sama.
Berdasarkan EMH dan data empiris kinerja manajer investasi tersebut inilah Samuelson menulis rekomendasi yang dianggap Wall Street cukup kontroversial tersebut. Ide utamanya adalah pengelolaan aktif tidak efektif karena EMH ternyata benar. Oleh karena itu, investor lebih baik diberikan produk investasi berbasis indeks, yang dikelola secara pasif dan berbiaya rendah.
Terinspirasi oleh tulisan-tulisan para akademisi diatas, pada tahun 1975, John Bogle melalui perusahaan investasi Vanguard mulai meluncurkan produk reksadana berbasis indeks ke publik Amerika.
Pada dasarnya, reksadana indeks adalah reksadana yang dikelola secara pasif, dengan tujuan utama menghasilkan kinerja yang mengikuti kinerja indeks tertentu (misalnya S&P 500, Dow Jones 30, IHSG atau JII) dengan biaya seminimal mungkin. Komposisi portofolio akan mirip dengan indeks yang diikuti dan tidak memerlukan riset khusus dalam pembentukan (construction) maupun penyesuaian (rebalancing) portofolio.
Dibandingkan dengan portofolio yang dikelola secara aktif, transaksi jual-beli (portfolio turn over) RDI juga relatif lebih jarang. Akibatnya, bagi manajer investasi, biaya pengelolaan secara pasif ini jadi jauh lebih kecil. Otomatis, biaya yang dibebankan ke nasabah investor jadi jauh lebih kecil. Selain biaya rendah, RDI relatif lebih transparan karena komposisi portofolionya jelas, mirip dengan indeks, dan hanya berubah sedikit, terutama jika ada perubahan komposisi indeks yang di ikuti.
Reksadana Indeks cocok bagi investor yang sepaham dengan EMH bahwa return abnormal tak dapat dipertahankan dan lebih bersifat untung-untungan, yang tidak mau pusing-pusing memilih manajer investasi, serta ingin berinvestasi ke pasar modal dengan biaya serendah mungkin. Juga cocok bagi yang mementingkan transparansi tinggi, dan merasa bahwa menganalisa arah indeks jauh lebih mudah daripada arah pergerakan saham satu-persatu.
Dalam 30 tahun terakhir ini, reksadana indeks tumbuh pesat hingga sekarang mencapai nilai US$ 2.2 trilyun (saham), US$ 900 milyar (bonds) dan US$1.1 trilyun (saham dan obligasi internasional). Yang menarik, pemimpin Fidelity, perusahaan manajemen investasi terbesar Amerika, salah satu penentang keras ide RDI, turut mengembangkan bisnis RDI untuk Fidelity yang kini sudah mencapai nilai US$ 30 milyar atau Rp. 270 trilyun!
Di pasar modal Indonesia, terdapat beberapa indeks: IHSG merupakan indeks harga seluruh saham yang tercatat di BEJ, yang terbobot dalam nilai kapitalisasi pasar setiap saham. LQ45 adalah indeks dari harga 45 saham terpilih BEJ, berdasarkan peringkat likuiditas, juga kapitalisasi pasar. JII merupakan indeks harga 30 saham terpilih BEJ, berdasarkan likuiditas dan kapitalisasi pasar, yang sesuai dengan syariat Islam.
Sejarah RDI di Indonesia, boleh dikata, masih berada di tahap awal, mirip di AS pada tahun 1975. Bedanya, pasar modal Indonesia belum se-efisien pasar modal AS di tahun 1975. Lalu, apakah in berarti reksadana indeks belum tepat untuk di beli atau ditawarkan saat ini? Tunggu dulu.
Oleh karena pada awalnya RDI dibuat berdasarkan rekomendasi pakar-pakar EMH, persepsi pasar mengenai RDI menjadi lekat dengan pasar yang efisien. RDI hanya akan sukses di pasar yang sudah efisien, demikian persepsi yang ada di publik.
Pada kenyataannya, berbagai RDI di pasar yang tidak efisienpun banyak yang sukses. Contohnya beberapa Small Cap Index Funds, yang komposisi portofolionya terdiri dari banyak perusahan-perusahan kecil di AS, dapat tumbuh dengan baik. Padahal, saham perusahan-perusahaan kecil di AS masih dianggap tidak efisien karena masih minimnya berita, analisa atau informasi mengenai perusahan-perusahaan kecil tersebut.
Selain itu, dengan menggunakan aritmatika sederhana, dan asumsi kinerja portofolio investor terdistribusi secara normal , serta tanpa asumsi pasar efisien, dapat kita tunjukan bahwa, paling tidak, secara rata-rata, kinerja RDI saham akan lebih baik dari kinerja 50% sampai dengan 60% dari populasi investor saham lainnya.
Apakah reksadana berbasis indeks akan ber-evolusi dengan baik seperti apa yang terjadi di AS, tentunya masih terlampau pagi untuk dapat kita pastikan. Akan tetapi, melihat faktor teori ekonomi keuangan yang kuat yang mendasari diciptakannya produk ini, ditambah dengan biaya pembelian yang rendah, serta prospek kinerja yang cukup potensial (diatas rata-rata, bahkan mungkin bisa terbaik), bukan tidak mungkin sukses di AS bisa terulang disini.
John D. Item, CFA
Selasa, 19 Mei 2009
Merencanakan Keuangan Anda

Namun, untuk dapat memenuhi semua kebutuhan itu, tentunya dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Sebagai contoh, mungkin Anda tau jika saat ini harga rumah di pinggir kota Jakarta dengan luas 96 m2 saja, sudah mencapai 200-300 juta rupiah. Belum lagi memikirkan biaya sekolah anak yang semakin lama semakin mencekik kantong. Saat ini saja, uang pangkal sebuah SMP swasta sudah mencapai puluhan juta rupiah, bayangkan uang sebesar itu hanya untuk pendidikan selama tiga tahun.
Keadaan ini tentunya menimbulkan pertanyaan bagi Anda, bagaimana saya bisa memenuhi semua kebutuhan itu? Jawabannya adalah dengan melakukan perencanaan keuangan sedini mungkin, dan bersenang-senanglah kemudian.
Perencanaan keuangan adalah suatu proses mengelola keuangan yang dilakukan dengan disiplin, untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan. Untuk itu, ada 5 langkah yang Anda harus lakukan :
Jangka Waktu Tujuan Keuangan
Jangka Pendek Anda ingin memiliki dana darurat
Jangka Menengah Anda ingin membayar uang muka rumah
Jangka Panjang Anda ingin mempersiapkan dana pensiun
Mulailah Merencanakan Keuangan Anda Sedini Mungkin
Semakin cepat Anda melakukan perencanaan keuangan Anda dan mulai berinvestasi, maka semakin kecil dana yang dibutuhkan. Hal ini tentunya akan menguntungkan Anda karena semakin banyak kebutuhan yang dapat Anda rencanakan. Sebagai contoh, kami memberikan ilustrasi perencanaan keuangan untuk mendapatkan dana pendidikan anak Anda di bawah ini.
Anda mempunyai seorang anak, dan Anda berencana untuk menyekolahkannya ke luar negeri untuk mengambil S1, dimana pada saat itu usia anak Anda adalah 18 tahun. Anda memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kuliahnya adalah sebesar 1 miliar rupiah. Jika Anda mendepositokan uang Anda untuk mendapatkan dana sebesar 1 miliar itu, dengan asumsi bunga deposito sebesar 6% per tahun (tidak termasuk pajak), maka didapatkan ilustrasi sebagai berikut:
3; 15; Rp. 3.741.270
8; 10; Rp. 6.439.885
13; 5; Rp. 14.704.567
Jumat, 15 Mei 2009
Kredit Tanpa Agunan dan Ilusi Bunga Flat
dari JanganSerakah.com
“Hallo?”
“Selamat siang pak. Nama saya X dari Bank Y. Saya menelpon untuk menginformasikan kepada bapak bahwa bapak telah terpilih untuk mendapatkan fasilitas kredit tanpa agunan sebesar 50 juta dari bank kami. Uang ini nanti bebas bapak pakai untuk…….”
Menulis post tentang KTA ini, saya jadi teringat akan suatu kejadian di bulan Oktober tahun lalu ketika saya diberikan sebuah “PR” oleh orang tua saya. Saya diminta untuk membantu mengurus penyelesaian hutang bank salah satu karyawan kami. Jumlah hutang karyawan itu kepada berbagai bank mencapai lebih dari Rp 40 juta, terdiri dari hutang KTA dan kartu kredit. Dengan gaji pokoknya yang hanya Rp 1,2 juta per bulan tentunya situasi karyawan tersebut bagaikan sebuah mimpi buruk, terlebih mengingat kondisi karyawan tersebut yang sudah ada tanggungan (istri dan 1 anak)
Di dunia “perhutangan”, KTA termasuk ke dalam kategori unsecured debt (lawannya adalah secured debt). Dalam unsecured debt, hutang yang diberikan tidak “terkait” dengan barang jaminan apapun, sehingga tentunya resiko yang ditanggung oleh si pemberi hutang lebih besar.
Seperti kita tahu, dalam investasi berlaku hukum “resiko sebanding dengan prospek keuntungan”, dan tentunya KTA juga tidak luput dari hukum ini. Karena resiko yang ditanggung oleh pemberi hutang lebih tinggi, orang-orang yang menggunakan KTA pun harus “membayar lebih mahal” dalam bentuk bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutang tipe “secured debt” (dimana kita harus memberikan barang jaminan kepada bank).
Beban bunga yang lebih tinggi (dan bisa sangat mencekik ini) yang menjadi alasan mengapa pada umumnya Financial Planner selalu menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari “unsecured debt” seperti KTA.
Salah satu hal yang membuat banyak orang tertarik untuk mengambil KTA adalah Ilusi bunga Flat. Satu hal yang saya sayangkan adalah masih banyak orang yang belum memahami apa itu bunga flat, sehingga saya kerap mendengar kalimat seperti “Ambil KTA aja, bunganya cuma 2% sebulan“. Sistem bunga Flat yang umumnya dipakai untuk KTA, memang menimbulkan ilusi bahwa bunga yang kita bayar tidak terlalu mahal, padahal kenyataannya tidak demikian.
Dalam sistem bunga Flat, bunga yang kita bayar diperhitungkan atas nilai awal hutang kita. Misalkan kita berhutang Rp 10 juta, maka besarnya bunga yang kita bayar itu selalu dihitung berdasarkan angka 10 juta ini, bahkan jika kita sudah mencicil sebagian dari 10 juta itu. Ini berbeda dengan sistem bunga “normal” (efektif) di mana besarnya bunga yang harus kita bayar itu dihitung berdasarkan kepada sisa hutang kita. Jika kita berhutang Rp 10 juta, tetapi sudah kita cicil Rp 1 juta, maka bunga yang kita bayar hanyalah bunga atas Rp 9 juta.
Perbedaan di atas menimbulkan selisih yang besar antara bunga flat dan bunga efektif. Sebagai contoh, jika kita mengambil KTA tempo 1 tahun dengan bunga “cuma” 2%/bulan (24%/thn), bunga efektif yang harus kita bayar sebenarnya adalah sebesar kurang lebih 42%. Dengan tingkat bunga seperti ini, tidaklah mengherankan jika institusi perbankan begitu bernafsu meminjamkan uangnya kepada kita dalam bentuk produk KTA ini (bandingkan dengan bunga deposito yang kita terima jika kita “meminjamkan” uang kita kepada bank).
Untuk mengkonversi bunga flat menjadi bunga efektif dengan lebih tepat, untuk teman-teman yang “tidak ada waktu” untuk menghitung secara manual, bisa menggunakan berbagai kalkulator online seperti yang tersedia di sini.
Pertama-tama masukkan nilai pinjaman, suku bunga FLAT, tipe pinjaman (FLAT) serta lama pinjaman (dalam bulan). Misalkan saja kita masukkan nilai pinjaman 100 juta, suku bunga flat 8%/thn, serta lama pinjaman 24 bulan. Maka hasil yang diberikan oleh kalkulator itu adalah : Total Amount Repayable (jumlah total pembayaran) = 116 juta dan cicilan perbulan 4.833.333.
Selanjutnya untuk mengetahui berapa sebenarnya bunga efektif yang kita bayar, maka kita lakukan sekali lagi penghitungan. Nilai pinjaman tetap 100 juta, tipe pinjaman diganti ke Compound, lama pinjaman tetap 24 bulan. Karena kita justru sedang mencari tahu berapa tingkat suku bunga efektif, maka kita tidak mengetahui berapa suku bunga efektif yang harus dimasukkan. Untuk mencari besarnya suku bunga ini, kita akan memakai metode “trial and error” (meskipun “trial and error” tetapi tidak membutuhkan waktu lama).
Utk percobaan pertama, masukkan saja misalnya suku bunga compound=16% (dua kali lipat dari suku bunga flat). Hasil yang kita dapatkan : Total Amount Repayable = 117 juta+ dan cicilan bunga per bulan = 4.896.311. Angka ini lebih besar daripada angka 116 juta pada penghitungan suku bunga flat. Oleh karena itu, kita turunkan sedikit angka suku bunga compound itu, misalnya menjadi 15%. Hasil baru yang kita dapatkan akan menurun menjadi 116,367 juta. Kecilkan terus suku bunga compound hingga hasil yang kita dapat = 116 juta, yang akan didapat pada tingkat suku bunga compound 14,68%. Dengan demikian berarti bahwa suku bunga flat di atas (8% selama 24 bulan) adalah sama dengan bunga efektif sebesar 14,68%.
Selasa, 12 Mei 2009
Tangga Deposito
aku balik nanya, kira2 mau dipakai lagi kapan? karena menentukan jenis investasi adalah dari return, resiko dan waktu.
kalo jangka panjang (diatas 5tahun), masukin ke Reksadana Indeks (DINAR), menurutku itu alternatif terbaik. returnnya lumayan, bisa 15 s/d 25% setahun.
kalo jangka menengah, 1 s/d 5 tahun, aku saranin ke Reksadana Obligasi. returnnya antara 7 s/d 12% per tahun.
kalo jangka pendek, 1 tahun atau kurang, masukin ke deposito, gampang khan?
terus kalo ada tambahan 5juta lagi, apa langsung ditambahin?
lebih baik buka baru, ini untuk mengantisipasi penarikan/pencairan deposito. dengan punya beberapa deposito dengan tgl jatuh tempo yang bervariasi, akan memudahkan kita saat pencairan.
kalo punya 1 deposito, mau apalagi, ngikut jatuh tempo. 30/1 = 30hari
kalo punya 2, bikin jarak jatuh temponya 30/2 = 15hari. misal yg satu tgl 5, kedua tgl 20.
kalo punya 3, 30/3 = 10 hari,
dan seterusnya.
Ok, enggak?
Jadi ini dinamakan Tangga Deposito, masing-masing anak tangganya berisi catatan tanggal jatuh tempo deposito.
salam,
Senin, 11 Mei 2009
Temen-temenku berangkat
Enggak bisa ngasih saku dan enggak tega "nodong" oleh, aku cuman bisa doain aja:
amiin.
Jumat, 08 Mei 2009
Back to Home
lagi nyari ide, enaknya dikustomisasi apalagi ya blog ini?
dikasih foto, kurang sreg, wong aku sendiri enggak fotogenik...
apa udah cukup yach? kayaknya belon...
ada ide buatku? terimakasih bila sempet mengisi komen...
Jumat, 17 April 2009
"Nabung itu Rugi"
Bikin sensasi doang kali...
silahkan bereaksi sepuasnya. maksud tulisan saya adalah, kita mesti menghitung dengan cermat sebelum membuka rekening di bank.
berarti kita tidak perlu rekening di bank?
tergantung, kalo kita gajian pake transfer dan bukan cash, kita harus buka rekening (atau dibukain rekening ama personalia) di bank.
tapi kalo kita nerima duit cash, belanja cash, nabung dalam bentuk emas, atau tanah, berarti kita enggak perlu amat rekening di bank.
Kalo duit kita kurang dari 5 juta, dengan bunga 3% per tahun dipotong pph final 20% dari bunga dan biaya administrasi 10 ribu per bulan, maka hitungannya begini:
uang : Rp. 5.000.000,-
bunga per bulan : (Rp. 5.000.000,- x (3% /12) = Rp. 12.500 - (Rp. 12.500 x 20% = 2500) = Rp. 10.000,-
Biaya administrasi = Rp. 10.000,=
maka uang anda akan "sia-sia" dan hanya akan dijadikan modal bagi bank untuk diputar dengan dikreditin ke orang/persh dengan bunga 12 s/d 15 % pertahun. kalo anda orang yang baik hati dan tidak sombong, silahkan memberi bank uang nganggur anda, hehehe...
Terus, 5 juta ini diapain? taruh dibawah bantal?
yang paling "mudah" dan agak menguntungkan, taruh di deposito. Anda tinggal ke bank, bawa materai 6.ooo, buka deposito, isi diformulir pembukaannya, jangka waktu 1 bulan, perpanjang otomatis (Automated Roll Over/ARO), Bunga/bagi hasil masuk ke pokok, dan setor uang anda di cashier, dan tinggal tunggu sertifikat depositonya.
dengan bunga/bagi hasil 6% dipotong PPh final 20%, maka hitungannya:
dana : Rp. 5.000.000,-
bunga/bagi hasil : Rp.5.000.000,- x (6 %/12) = Rp. 25.000 - (25.000,- x 20% = 5.000,-) = Rp. 20.000,-
administrasi = Rp. 0,- (hanya materai Rp. 6000 saat pembukaan dan 6000 saat pencairan.
Ada alternatif laen?
Ada, banyak lagi, beli ORI, SUKUK Retail, Emas koin/batangan, Reksadana, de el el...
Jadi?
Dengan ilustrasi diatas, kita ambil kesimpulan, bahwa penempatan dana yang tepat akan membuat
"Uang bekerja untuk kita"
Kamis, 16 April 2009
Ruang ngobrol
Idenya aku dapet dari iklan (ih, pasif banget yak..) di yahoo mail.
biar telat asal cepat dan selamat....
jadi sekarang kita bisa ngobrol di Ruang Ngobrol...
yup, tapi apa aku harus instal YM untuk ngaktifin pingbox ya? soale aku biasa chat dari Ymail terus, belon pernah dari YM, karena belon install.